MENGENALKAN TEKNOLOGI KEPADA ANAK SEIRING DENGAN TAHAP PERTUMBUHAN ANAK.
Seperti yang kita tahu, sekarang sudah memasuki zaman dimana teknologi menjadi panduan utama dalam kehidupan. Bahkan mungkin orang yang tidak mengenal teknologi akan terperosok dan tidak bisa mengikuti zaman. Maka dari itu, kita sebagai orang yang sadar akan hal ini, mestinya harus berpartisipasi dalam memajukan sumber daya manusia (SDM) lewat teknologi.
Di pembahasan ini, saya akan membahas tentang bagaimana kita memperkenalkan teknologi kepada anak seiring dengan pertumbuhannya, tentunya ini mengerucut pada peran keluarga.
Sebelum memasuki pembahasan inti, kita harus mengetahui bagaimana tahap-tahap pertumbuhan anak. Berikut adalah tahap pertumbuhan anak seiring dengan emosinya:
- Bayi (0-1 tahun)
Saat dilahirkan tentunya tahap pertumbuhan anak yang akan dialami pertama kalinya yakni sebagai bayi. Bayi hanya mempunyai 2 bentuk emosi, yakni tangisan dan senyuman. Mereka menggunakan tangisan untuk mengisyaratkan bahwa mereka membutuhkan sesuatu, merasa tidak nyaman, dan menarik perhatian. Sedangkan senyuman adalah bentuk respon mereka terhadap sesuatu yang menyenangkan.
- Balita (1-3 tahun)
Pada pertumbuhan anak yang mencapai balita, seorang anak sudah bisa mengekspresikan emosinya dengan lebih jelas, seperti tantrum saat frustasi, kegembiraan saat sedang bermain, dan mereka juga sudah bisa mengenali emosi orang sekitarnya seperti sedih ataupun bahagia. Meskipun pada tahap pertumbuhan ini, anak belum bisa mengendalikan sepenuhnya emosi mereka.
- Pra-Sekolah (3-5 tahun)
Memasuki tahap ini, anak mulai bisa mengelola emosi mereka dan mereka juga sudah bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan mereka juga sudah mulai memahami konsekuensi dan aturan yang berlaku meskipun tidak spesifik. Pada pertumbuhan ini, anak juga bisa memunculkan rasa empati kepada orang lain.
- Usia Sekolah (6-12 tahun)
Pada tahap pertumbuhan ini, anak sudah mulai memahami emosi mereka senidiri secara lebih kompleks seperti rasa malu, bersalah, dan bangga. Pada tahap ini pun mereka juga sudah bisa adaptasi terhadap keadaan sosial dan sedikit demi sedikit mereka mengerti bagaimana posisi dan peran mereka dalam lingkungan sosialnya. Bahkan rasa empati yang muncul bisa berbuah sebuah pergerakan seperti membantu orang lain yang sedang kesulitan.
- Remaja (13-19)
Ini adalah tahap pertumbuhan dimana anak sudah menginjak masa remaja. Banyak perubahan emosi yang lebih mendalam seperti benci, cinta, rasa menghargai dan frustasi. Biasanya pada tahap ini pencarian jati diri dimulai, entah imbasnya buruk atau baik bagi diri mereka.
Sekarang kita sudah tau bagaimana tahap pertumbuhan seorang anak mulai dari balita hingga remaja. Maka selanjutnya kita lihat dari sudut pandang teknologi, bagaimanakah peran kita sebagai orang tua atapun anggota keluarga untuk memperkenalkan teknologi kepada anak sesuai dengan perkembangan zaman? Mari kita bahas satu persatu sesuai dengan tahap pertumbuhannya.
- Avoidance Stage (Tahap Penghindaran).
Avoidance Stage adalah tahap dimana kita harus menghindarkan teknologi kepada anak kita, biasanya tahap penghindaran ini dilakukan pada tahap pertumbuhan bayi hingga balita. Memang sebaiknya kita sebagai anggota keluarga harus terlebih dahulu memberikan afeksi dan lingkungan keluarga harmonis kepada anak. Karena pada dasarnya pada tahap ini, seorang anak belum bisa menangkap dan mengelola pola pikir mereka untuk memahami teknologi. Jadi Avoidance Stage adalah pengambilan langkah bagus, dimana kita mesti fokus terhadap pembangunan rumah tangga yang baik.
- Approach Stage ( Tahap Pendekatan).
Masuk kepada Approach Stage, Tahap Pendekatan. Mulai dari tahap ini, kita mulai memperlihatkan bentuk fisik akan teknologi seperti gadget, TV, Kulkas, AC dan segala peralatan yang berhubungan dengan teknologi. Namun dalam tahap ini kita belum terlalu memperkenalkan bagaimana sistem teknologi itu bekerja, yang terpenting mereka sudah mulai mengingat bentuk akan benda-benda itu, dan sebisa mungkin jangan terlalu menunjukan ketertarikan pesona teknologi yang rawan kepada mereka seperti HP, Laptop, Komputer dll. Dan kita akan taruh Approach Stage ini pada masa bayi mendekati balita.
- Introductory Stage ( Tahap Perkenalan ).
Sampailah pada tahap perkenalan, dimana para anak sudah mulai beranjak balita pertengahan. Artinya mereka sudah bisa berkomunikasi, dan sudah mulai bisa melakukan kehendak sesuai rasa penasaran mereka, dan kita akan memanfaatkan rasa penasaran itu sebagai alat menuju pengetahuan akan teknologi. Anak dengan umur balita pertengahan akan tertarik dengan hal yang mereka sering lihat namun tidak bisa mereka gapai, seperti seorang anak yang melihat orangtuanya bermain Gadget sesaat kemudian orangtua mereka tertawa saat melihat HP, disitulah anak mulai penasaran “ Apa itu? Ada apa di dalamnya?, Apakah seru? “. Pertanyaan menjadi aksi, dan aksi menjadi jawaban. Maka peran kita disini ialah memperkenalkan hal paling dasar yang bisa diserap oleh balita, seperti menyalakan dan mematikan kipas angin, lampu, TV, Radio, Gadget dan segala alat yang memungkinkan untuk diserap pengetahuannya oleh para anak.
- Teaching Stage ( Tahap Pengajaran ).
Sudah jelas tertera dalam tahap ini harusnya seorang anak sudah di masa Sekolah Dasar. Perlu diketahui dalam masa ini anak sedang gencar-gencarnya untuk bermain dan mengenal lingkungan sekitar. Namun tak sedikit juga kasus seoarang anak yang mengalami kegagalan dalam mengenal dunianya. Disini kita harus berhati-hati, karena komunikasi anak sudah mulai meluas kepada teman sekitarnya, bahkan mereka sudah bisa mengenal teknologi lebih dulu dibanding kita mengajarkannya. Tapi tetap harus kita beri penjagaan dalam penggunaan teknologi itu, maka peran kita ialah mengajari anak bagaimana sistem teknologi itu bekerja. contohnya seperti memasang kabel kabel yang ada di TV, Menghubungkan HDMI, Menggunakan FlashDisk di Laptop, Cara Download Youtube, dan segala Tutorial yang mudah di tangkap oleh anak seusianya mereka. Sekali lagi perlu diingat, Teaching Stage ini adalah pedang bermata dua yang bisa saja memberikan dampak positif untuk anak ataupun negatif, seperti ketergantungan ataupun kecanduan. Maka peran kita didalamnya yakni memberi batasan dan pengetahuan yang baik kepada anak akan teknologi.
kesimpulannya, manusia mempunyai masa-masa yang tepat untuk berkenalan, menggunakan, bahkan mengembangkan teknologi. hal ini di dukung oleh banyaknya fenomena globalisasi yang semakin marak di Indonesia. Kita sebagai pertner masa depan harus mulai peduli dengan hal ini, karena masa depan Indonesia bergantung terhadap perkembangan teknologi di kalangan remaja.