Internet merupakan sebuah perkembangan teknologi dan komunikasi yang menjadi sebuah ruang digital baru bagi masyarakat. Keberadaan internet mempermudah masyarakat untuk mengakses berbagai informasi dan hiburan dari berbagai penjuru dunia. Adanya internet secara tidak langsung melahirkan generasi baru yang dibesarkan dalam lingkungan digital. Mereka yang lahir di era digital akan berintraksi dengan peralatan digital sejak usia dini. Anak anak lahir setelah tahun 1990-an dikatakan sebagai awal generasi digital native.
Pergeseran budaya dari tradisional menjadi digital melahirkan banyak media-media yang menyediakan kemudahan bagi masyarakat. Contohnya adalah media sosial seperti facebook, instagram, twitter, dll.
Ada banyak alasan mengapa .anak remaja intensitas untuk mengakses media sosial lebih sering dibandingkan orang dewasa. Salah satunya yaitu karena bisa menjadi sumber informasi, dapat terhubung dengan teman baru dan lama, serta untuk hiburan semata. Kehadiran sosial media pada kalangan remaja menjadikan privacy seseorang melebur di ruang publik. Banyak remaja yang secara gamblang mengunggah aktivitas serta provil dirinya. Hal itu yang menjadikan remaja membentuk identitas dirinya melalui sosial media.
Pada dasarnya masa remaja merupakan masa peralihan atau transisi dari anak anak menuju dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, kognitif, dan kematangan emosional. Remaja kini memanfaatkan media sosial sebagai salah satu wadah untuk mencoba hal hal baru sesuai dengan minat dan kesukaannya. Dengan adanya media sosial ini, remaja menjadi sangat diuntungkan karena mudah berintraksi dengan sesama, menyusuaikan diri, serta berbagai informasi secara tidak terbatas. Internet dan remaja sekarang ini menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan seiring perkembangan penggunanya yang semakin maju.
Penelitian menyebutkan bahwa terdapat empat sosial media yang intensitas penggunaanya paling tinggi dibandingkan lainnya, antara lain instagram, line, youtube, dan facebook. Terdapat penyebab mengapa anak remaja sangat menggemari keempat media sosial tersebut. Hal ini dikarenakan anak anak seusia mereka juga menggunakan aplikasi yang sama, terutama teman teman lingkungan sekitar. Dalam media sosial terdapat fitur seperti mengawasi, meninggalkan komentar, berbagi informasi (foto, lagu, film), mengonsumsi konten, dan berkomunikasi (chat). Dengan demikian keempat sosial media tersebut memberikan wadah bagi para penggunanya untuk berpatisipasi dalam komunitas sesuai dengan kesukaan dan minat mereka.
Bagi remaja, media sosial menjadi sebuah wadah yang menarik karena dapat menjadi sarana akumulasi penguatan identitas terkait dengan relasi dengan teman temannya. Apabila ada anak yang tidak menggunakan media sosial yang serupa dengan temannya, maka anak tersebut akan dianggap tidak updute dan tertinggal informasi. Hal ini yang menjadikan anak menjadi tereksklusi dari lingkar sosial. Media sosial juga mempunyai batasan usia untuk penggunanya, yaitu paling tidak berusia 13 tahun. Namun, media sosial tentu saja memiliki sistem yang dapat mendeteksi secara valid untuk menghindarkan anak usia dibawah 13 tahun memalsukan identitasnya.
Media sosial kerap kali menayangkan iklan yang tidak cocok untuk anak anak, seperti iklan pada game yang menampilkan unsur kekerasasn dan pornografi. Oleh karena itu, jika ada anak usia dibawah 13 tahun yang sudah mengakses media sosial akan menimbulkan dampak negatif. Mereka yang tidak sengaja melihat tayangan iklan, berita, maupun film yang mengandung unsur negatif maka akan berdampak pada psikologis anak.
Selain itu, sifat media sosial yang publik dan konvergen beresiko pada privasi anak dan remaja. Sebagian anak sadar jika media sosial akan resiko negatif bermedia sosial, namun terdapat juga yang menganggap bahwa media sosial adalah sesuatu kebutuhan. Hal ini yang menyebabkan ketika mereka dibatasi untuk mengakses media sosial akan timbul rasa gelisah.
Selain menggambarkan afek negatif dari menggunakan media sosial adalah terpapar tayangan kekerasan dan pornografi , ternyata media sosial juga menyebabkan kecanduan. Banyak kasus anak yang mengesampingkan akal sehatnya terutama remaja. Orang tua menuntut bahwa seharusnya terdapat filter pada media sosial agar anak tidak kecanduan dalam berselancar di media sosial.
semua pemangku kepentingan sepakat bahwa sebenarnya yang memiliki peranan penting pengawasan anak dalam bermedia sosial adalah orang tua. Salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan adalah dengan adanya literasi media, sehingga bisa meminimalisir dampak buruk media bagi anak. Perkembangan media yang sangat pesat, mengharuskan orang tua dapat mengawasi anak anaknya saat bermedia sosial. Namun ketimpangan generasi antara anak dan orang tua membuat kebutuhan anak menggunakan media sosial juga berbeda.
Bagi orang tua, di harapkan dapat lebih meningkatkan kemampuan literasi media sehingga dapat memaksimalkan proses pendampingang pada anak ketika bermedia sosial. Apalagi orang tua pada dasarnya tidak memiliki seluk beluk media sosial namun hanya sebatas berperan sebagai pengguna yang memiliki kekpentingan tertentu. Sehingga orang tua, harus belajar untuk memiliki kemampuan memahami isi media dan juga melek media. Karena menjadi seseorang yang melek media akan menjadikan kita mempunyai perspektif yang lebih kelas untuk melihat antara dunia nyata dan dunia yang dihasilkan dalam media.
Pengawasan orang tua terhadap penggunaan media sosial anak mencakup penetapan batasan waktu, pemantauan konten dan aktivitas, serta edukasi mengenai etika dan resiko digital. Penting untuk membangun komunikasi terbuka, menjadi teladan yang baik, serta menggunakan alat bantu seperti aplikasi parental control untuk memastikan anak tumbuh menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab dan aman.
Berikut adalah cara cara pengawasan yang dapat di lakukan orang tua:
1.Tetapkan Batasan Waktu Dan Aturan
- Tentukan jam penggunaan gadget dan aplikasi media sosial untuk anak, seperti membatasi waktu saat hari sekolah
- Buat aturan ketat mengenai konten apa saja yang boleh di akses dan di unduh
- Pantau Konten Dan aktivitas
- Gunakan pengaturan privasi yang tepat pada akun media sosial anak untuk membatasi siapa aja yang bisa melihat profil mereka dan menghubungi mereka
- Gunakan aplikasi parental control untuk memantau aktivitas digital anak, membatasi akses ke situs tertentu, dan mengatur durasi penggunaan.
- Buka komunikasi dan berikan edukasi
- Ajak anak berdiskusi mengenai konten yang mereka akses di media sosial untuk meningkatkan kemampuan komunikasi,empati,dan pengendalian diri.
- Edukasi anak tentang bahaya yang mungkin timbul dari penggunaan media sosial, seperti cyberbullying, dan ajarkan etika digital.
- Jadilah contoh yang baik
- Orang tua perlu memberikan contoh yang baik dalam penggunaan media sosial, termasuk membatasi penggunaan gadget di depan anak
- Libatkan anak dalam aktivitas positif
- Dorong anak untuk terlibat dalam aktivitas digital yang positif dan bermanfaat.
- Berikan alternatif kegiatan lain seperti membaca buku untuk mengurangi ketergantungan pada media sosial
- Libatkan anak dengan baik
- Bisa dengan “berteman” di media sosial dengan anak, atau menggunakan grup keluarga di media sosial sebagai alat komunikasi untuk tetap terhubung.
Itulah salah satu cara cara pengawasn yang dapat dilakukan oleh orang tau.
Pergaulan juga sangat mempengaruhi anak terhadap media sosial, jika anak kita sudah salah pergaulan otomatis sang anak juga akan menggunakan sosial media dengan tidak benar, maka dari itu kita juga harus jaga anak kita terhadap pergaulan juga karna bisa mempengaruhi media sosialnya juga.
Di jaman yang serba modern ini saya juga sering melihat anak kecil masih berumur 4-9 tahun sudah diberikan hp oleh orang tuanya, sebenarnya itu tidak baik untuk anak anak karena umur segitu seharusnya tidak diberikan hp agar tidak kena sosial media yang buruk
Penggunaan hp yang terlalu berlebihan juga bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Berikut dampak negatif penggunaan hp terhadap anak anak :
1. Gangguan tidur
Berdasarkan penelitian yang dilakukan bosto college pada tahun 2012, sebanyak 75% anak berusia 9-10 tahun mengalami kesulitan tidur karena penggunaan gadget yang berlebihan tanpa pengawasan, tentunya, gangguan tidur ini juga bisa berdampak pada prestasi sekolah, karena otak dan tubuh yang tidak dapat beristirahat dengan baik di malam hari.
2. Sifat agresif
Dampak negatif hp bagi anak selanjutnya adalah munculnya sikap agresif . pasalnya, penggunaan hp yang berlebihan tidak hanya memberikan dampak buruk akibat radiasi, tapi juga dampak negatif yang didapatkan dari konten media yang dikonsumsi. Oleh sebab itu, para orang tua sebaiknya membatasi waktu penggunaan hp beserta memfilter konten – konten apa saja yang layak untuk di konsumsi anak usia dini.
3. Mengganggu pertumbuhan otak anak
Pada anak usia dini, pertumbuhan otak anak bertumbuh dengan sangat cepat. Pertumbuhan otak ini terus berlangsung hingga usia 21 tahun, dan juga di pengaruhi oleh stimulasi lingkungan sekitarnya. Jika pemakaian hp pada sang anak terlalu berlebihan, hal ini dapat memberikan dampak buruk seperti keterlambatan kognitf, tantrum, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri. Untuk dapat mencegah dampak negatif hp bagi anak kecil, sebaiknya berikan mereka keluasan dalam menggunakn hp ketika mereka sudah menyentuh usia tertentu saja
4. Sifat ketergantungan pada gadget
Dampak negatif hp bagi anak selanjutnya adalah munculnya rasa ketergantungan terhadap gadget itu sendiri. Ketika sang buah hati terlalu sering atau lama menggunakan gadget atau hp, tentunya bisa muncul rasa ketergantungan dalam diri mereka. Hal ini dapat mengakibatkan efek buruk dalam perkembangan fisik dan juga motoriknya. misalnya , anak menjadi enggan berintraksi langsung dengan orang sekitar, gangguan motorik, hingga kurangnya asupan makanan karena mereka terpaku pada layar hp.
5. Potensi gangguan mental pada anak
Penelitian di bristol university pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa penggunaan gadget berlebihan pada anak yang perlu di waspadai adalah meningkatnya risiko depresi, gangguan kecemasan, kurang perhatian, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya. Dampak negatif hp bagi anak ini bisa di sebabkan karena interaksi anak dengan sekitar, atau bahkan interaksi media sosial yang buruk, seperti tindak cyberbullying.
Untuk mencegah terjadintya dampak negatif hp bagi anak , diperlukan peranan orang tua di dalamnya. Jangan ragu untuk membatasi penggunaan gadget seperti hp dan tablet. Misalnya, berikan peembatasan pengguanaan gadget maksimal 2 jam setiap hari, atau berikan kebebasan menggunakan gadget hanya pada hari libur. Selain itu, jangan lupa untuk selalu mengawasi apa saja yang dilakukan anak dengan gadget tersebut untuk memfilter konten yang di konsumsi.